Tracking Kapal Laut dengan Data AIS Milik Sendiri: Cara Kerjanya
Redbit29 Okt 20264 mnt baca
Pukul 07.00, pelanggan menelepon menanyakan kapan tongkang batubaranya sandar di jetty. Anda membuka aplikasi tracking kapal laut di ponsel. Posisi terakhir tugboat itu tercatat sembilan jam lalu, 60 km dari pantai. Kapalnya kemungkinan besar baik-baik saja, tetapi Anda tidak bisa memberi ETA yang bisa dipegang. Anda menelepon nakhoda dan menunggu.
Situasi itu ilustrasi, tetapi penyebabnya teknis dan bisa dijelaskan. Kebanyakan aplikasi tracking menampilkan data AIS, sinyal radio VHF yang dipancarkan kapal. Sinyal ini ditangkap stasiun penerima di darat atau satelit. Bila tidak ada penerima dalam jangkauan, kapal tetap berlayar tetapi titiknya berhenti bergerak di layar.
AIS wajib, tetapi tidak menjamin kapal terlihat
Kewajibannya sudah berlaku sejak Agustus 2019 lewat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2019. Kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan SOLAS wajib memakai AIS Kelas A. Kapal penumpang dan kapal barang nonkonvensi minimal GT 35 wajib memakai AIS Kelas B. Nakhoda juga wajib mengaktifkan AIS dan memberikan informasi yang benar.
Masalahnya ada di sisi penerima. Sinyal VHF merambat sebatas garis pandang. Satu studi ITS mencatat stasiun radio pantai dengan antena sekitar 10 meter hanya dapat memantau kapal hingga kira-kira 56 km dari pantai. Di luar itu, kapal bergantung pada AIS satelit. Satelit menutup laut lepas, tetapi di perairan padat ia lebih sulit memisahkan sinyal yang datang bersamaan, sehingga sebagian posisi tidak tertangkap.
Akibatnya, titik di aplikasi publik kerap tertinggal beberapa jam, terutama untuk kapal Kelas B. Untuk tugboat dan tongkang yang bolak-balik di jalur yang sama setiap minggu, celah ini berulang di titik yang sama. Celah itu juga yang membuat tim operasional kembali ke telepon dan laporan manual.
Kapabilitas yang kami bawa
Redbit mengoperasikan stasiun penerima data AIS dan mengolah data posisi kapal untuk pemantauan berbasis peta. Kami terbiasa dengan sifat data ini: posisi ganda, jam yang tidak berurutan, dan lompatan posisi yang mustahil secara fisik. Platform kami dibangun di atas GIS open-source, sehingga aturan pemantauan, batas area, dan laporan bisa disusun sesuai alur kerja perusahaan Anda.
Aplikasi tracking kapal laut yang memakai data milik Anda
Pendekatan kami dimulai dari pertanyaan sederhana: di titik mana kapal Anda biasanya hilang dari layar? Jawabannya ada di data historis. Bila celahnya selalu muncul di jalur yang sama, ada dua pilihan. Pertama, menambah penerima AIS di darat yang dekat jalur itu, misalnya di jetty atau titik tinggi di pantai. Kedua, menggabungkan sumber data AIS satelit khusus untuk segmen tersebut.
Di atas data itu, kami menyusun tiga hal. Batas area (geofence) untuk jetty, area labuh, dan alur yang Anda tentukan sendiri, dengan notifikasi ketika kapal masuk atau keluar. Peringatan jeda sinyal yang ambangnya dihitung per kapal dari pola historisnya, karena kapal Kelas B memang melapor lebih jarang. Lalu histori perjalanan yang disimpan di basis data Anda sendiri, bukan hanya di layanan pihak ketiga yang bisa berubah syarat aksesnya.
Pendekatan ini punya batasan, dan lebih baik disebut sejak awal.
Batasan pertama adalah geografi. Stasiun darat hanya menolong di jalur yang dekat pantai. Untuk rute laut lepas, data satelit tetap dibutuhkan, dan biayanya bergantung pada penyedia serta frekuensi pembaruan.
Batasan kedua adalah perangkat di kapal. AIS hanya sebaik perangkat dan pengaturannya. Antena rusak, daya listrik tidak stabil, atau data statis yang salah diisi akan tetap menghasilkan titik yang salah. Kami menandai anomali seperti ini, tetapi perbaikannya tetap di kapal.
Batasan ketiga adalah sifat AIS itu sendiri. AIS dirancang untuk mencegah tabrakan, bukan untuk pengawasan. AIS bisa dimatikan dari kapal, dan sistem di darat hanya bisa mencatat bahwa sinyalnya berhenti. Untuk kapal perikanan, kewajiban dan sistemnya berbeda, yaitu VMS yang diawasi KKP.
Batasan keempat adalah ETA. Perkiraan waktu tiba dari kecepatan dan jarak cukup baik di laut terbuka, tetapi meleset ketika kapal menunggu pasang, antre di alur, atau menunggu cuaca. Kami menampilkannya sebagai rentang, bukan satu jam pasti.
Cara memulai
Bila Anda mengelola armada tugboat, tongkang, atau kapal barang domestik, langkah awalnya bisa kecil.
1. Pilih satu rute yang paling sering memicu pertanyaan ETA dari pelanggan.
2. Ekspor histori posisi kapal di rute itu selama tiga bulan dari aplikasi yang sekarang Anda pakai.
3. Kami petakan di mana dan berapa lama posisi kapal hilang, lalu hitung opsi penutupnya.
4. Bila hasilnya berguna, kita jalankan pemantauan untuk rute itu selama satu bulan.